Langsung ke konten utama

Kisah Perjuangan untuk Mendapat Kursus Bahasa Inggris Gratis!


Kisah Perjuangan untuk Mendapat Kursus Bahasa Inggris Gratis!

Hallo pembaca…selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam…(kondisikan yaa hehhee). Okehh diwaktu apapun kalian membaca tuisan ini semoga kalian masih dalam lindungan Allah SWT, masih sehat dan masih semangat dalam berjuang mengejar mimpi. Asik mantap JIWA!

Berbicara tentang mimpi, dulu dan sampe saat ini saya masih bermimpi untuk bisa berkeliling dunia secara gratis. Tapi, yang namanya juga mimpi kalo masih tidur yaahh gak akan terwujud. Dan saya coba bangun dari tidur panjang saya dan ingin mewujudkan mimpi itu. Kalian tau kan salah satu modal untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri selain uang yaitu BAHASA. Yupss benar kita harus bisa berbahasa Inggris. Ibarat kata…dimana kita berada disitu langit dijunjung! Wahh mantap benar…rasa-rasanya mimpi saya sebentar lagi akan terwujud. Aamiin yaa Rabbal alamin

Bahasa inggris! Sejak SMP hingga kuliah saya sangat BENCI yang namanya pelajaran bahasa inggris. Bagaimana tidak, saya kesulitan dalam mengingat kosa kata, penyebutan yang harus lidah ke-bule-bule-an, duhh pokoknya kalo lagi belajar bahasa inggris dikelas jadi pengen cepet selasai dehh, kadang pengen muntah karena harus penyebutan huruf “R” lidah di lipat lipat di gulung gulung (tikar kaliii hehhehe). Apalagi kalo denger temen-temen fasih banget ngobrol pake bahasa inggris pengenya nyerocoss ikut burgunting lidah (apalah daya hanya bergumam)…uihhh keren dan setilll banget tuh orang. Namun pada kenyataanya, tentu saja saya segera menjauh dari pemukiman tersebut dengan alasan (Ehh sist mau ke kandang dulu yaah mau ngasih makan dinosaurus hahahh) fiuuuuuhhhh (lari kencang).

Seiring berjalannya waktu, teman-tema kenalan saya banyak yang poto-poto di depan Opera House, berdiri samping kincir angin, salju, dibawah pohon sakura, di taman bunga tulip, di menara kembar,depan patung singa, depan menara pisa, menara eifel dan tempat-tempat terkenal di luar negeri. Wahh mereka hebat sekali, hasrat saya untuk berkeliling dunia semakin bergairah. Bagaimanapun saya harus mewujudkan mimpi. Ternyata kunci nya yaitu “HARUS BISA BERBAHASA INGGRIS”. Dari situ saya ingin belajar bahasa inggris (walaupun sejatinya keinginan saya untuk bisa berbahasa inggris bukan karena foto bagus, pikiran saya mulai terbuka untuk melanjutkan studi ke luar negeri dengan mengandalakan beasiswa). Beberapa kali saya ingin mendaftar beasiswa selalu GAGAL. Karena skor bahasa inggris yang menjadi persyaratan selalu di bawah standar. Mau tidak mau saya harus merogoh kantong lebih dalam untuk mengikuti kursus bahasa inggris. Al hasil nilai yang ditargetkanpun masih saja belum bisa memenuhi standar. Saya sempat down dan putus asa. Saya sempat mengubur mimpi saya dan melupakan foto-foto indah yang pernah saya impikan. Di tengah job desk yang padat membuat saya kesulitan untuk membagi waktu belajar dan bekerja, itulah sebabnya mengapa saya belum bisa secara maksimal untuk fokus pada pelajaran meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya.

Suatu hari saya mengobrol tentang future plan bersama dosen pembimbing akademik saya waktu kuliah dan saat itu menjadi ketua tim projek di salah satu projek penelitian dunia pangan di NTB yang saya ikuti. Saya mencurahkan isi hati saya sedalam-dalamnya hingga beliaupun merasa iba dan coba memotivasi saya kembali dengan memberikan salah satu informasi tentang adanya program kursus bahasa inggris gratis dari pemerintah Australia yang diberikan secara khusus kepada masyarakat Indonesia wilayah timur. Karena di tahun sebelumnya, anak beliau merupakan salah satu alumni dari program tersebut dan berhasil mendapat beasiswa Australia Awards Indonesia. Sedikit cerita suka dan duka yang dilakoni oleh anaknya selama mengejar cita-citanya membuat hati saya terketuk, hati saya tergetar kembali untuk membuka jendela mimpi yang sempat tertutup. Angin semangat dari beliau telah menghepaskan jendela hati saya untuk kembali mengintip impian.

Finally, saya mencoba mencari informasi tentang program tersebut. Saya ingat sekali saat itu informasi tentang program beasiswa kursus gratis dari pemerintah Australia (yang disebut English Language Training Assistance (ELTA) NTB) sangatlah kurang, namun di tahun 2015 saya bisa mendaftaran diri dan mengirimkan berkas-berkas persyaratan melalui email kepada pihak penseleksi program ELTA tahun itu. Pada tahap administrasi saya memenuhi persyaratan dan berhak mengikuti seleksi tahap selanjutnya, yaitu ujian tulis. Disini saya kembali GAGAL dan belum pantas untuk menjadi awardee ELTA NTB. Saya sedih. Karena kegagalan ini saya merasa dendam pada kemampuan saya pada bahasa inggris. Saya kembali fokus pada pekerjaan. Namun rasa bosan terhadap pekerjaan dan rutinitas setiap harinya membuat saya berubah pikiran untuk mengubah nasib saya. Bagaimanapun saya harus bisa berbahasa inggris. Saya mengambil jadwal kursus bahasa inggris private bersama teman saya dua orang waktu itu Ranny dan Puput (juga scholarship hunter). Karena padat jadwal pekerjaan saya, membuat kami harus memutuskan untuk mengambil jadwal sore. Bahkan kadang kami membatalkan jadwal karena saya selalu bekerja lembur. Nasiiiibbb yaaa nasibbb…

Saya tau, kenapa saya gagal dalam seleksi ELTA. Itu karena saya tidak pandai dalam penulisan essay dalam bahasa inggris (dimana dalam salah satu soal seleksi yaitu disuruh menulis essay dalam bahasa inggris dengan jumlah kata sebanyak 150 kata) dengan diberi topik yang telah ditentukan. Sudah jelas disini saya tidak bisa berbuat apa-apa selain merangkai beberapa kata dalam bahasa inggris yang saya tahu.  Jujur saja, saat itu saya tidak paham maksud dari pertanyaan (sub topic) yang disodorkan untuk ditulis. Saya benar-benar seperti hilang ingatan waktu itu (ahhahah sumpah saya syok dan hampir pingsan). Dan saya sedikit songong untuk mengisi lembar kertas tersebut dengan memadukan essay dalam dua bahasa..Indoneisa-english atau English-Indonesia…entahlahhh yang jelas yang dalam pikiran saya saat itu yang penting di lembar kertas itu penuh dengan tulisan (ahahhaha benar-benar konyol).

Beberapa kali mengikitu ujian toefl prediksi, nilai saya tidak pernah sampai target yang diinginkan. Entah mengapa rasanya saya sangat semangat di tahun ini untuk berani mengambil keputusan. Saya menyampaikan keinginan saya pada Bapak bahwa saya ingin resign dari pekerjaan dan pergi ke Pare (Kampung Bahasa Inggris di Jawa Timur) agar saya bisa fokus belajar bahasa inggris dan mengejar beasiswa untuk bisa ke luar negeri. Alhamdulillah, Bapak saya merestui walaupun dengan sedikit berat hati karena tak ingin saya kemana-mana. Ingat sekali nada suara Bapak saya waktu itu mengatakan “terserah kamu saja nak, yang penting kamu mau belajar” (saya menangis terharu dan nangis di pojokan…garuk garuk tembok…heheheh) inihh serius, sumpah benerrr!

Seiring berjalannya waktu, sebelum saya hengkang dari pekerjaan saya kembali mengikuti seleksi ELTA NTB lagi. Saya masih menyisihkan harapan untuk mendapatkan biaya belajar gratis walaupun saat itu orang tua sudah mengizinkan dan menyediakan biaya untuk hidup di daerah orang. Di tahun 2016 saya mengirim berkas-berkas kepada pihak penseleksi program ELTA NTB untuk kedua kalinya. Dan sebulan setelah nya saya menerima email bahwa saya lolos untuk tahap seleksi selanjutnya. Euphoria kebahagia kelulusan tahap ini tidak seheboh tahun sebelumnya, karena saya merasa belum percaya diri untuk bisa menjawab soal-soal tes apalagi menulis essay. Ahh sudahlah…pikirku sudah melayang jauh di Pare, bagaimana tidak…saya sudah membayangkan bahwa tiap harinya saya akan dengan lancar ngobrol dengan teman-teman menggunakan bahasa inggris. Akhirnya saya mengikuti ujian dengan bentuk soal yang sama persis dengan tahun sebelumnya. Saat menjawab soal saya merasa tak terbebani, karena misi saya saat itu LULUS tidak LULUS yang penting saya sudah coba dan saya akan tetap bisa belajar bahasa inggris kok walaupun tidak di ELTA. Tapi dalam hati kecil saya benar-benar mengharapkan bahwa saya ingin mendapatkan beasiswa ini. Tapi saya tak ingin berharap banyak.. saya takut terpuruk untuk kedua kalinya. Karena jatuh itu sakiiiittt dan perihhhh tapi aneh tak berdarah! (hehhehee no baper yaa). Yang membuat saya was-was adalah, saya akan resign dari pekerjaan tentu saya tak punya penghasilan sendiri malah memberatkan beban orang tua. Walaupun orang tua sudah mengIkhlaskan saya untuk menuntut ilmu dan mengejar mimpi-mimpi saya.

Sehari setelah ujian pun diumumkan kepada 60 orang yang akan mengikuti seleksi tahap akhir yaitu interview. Saat itu saya tidak berani melihat informasi secara langsung, saya mencoba untuk fokus pada pekerjaan dan berusaha untuk tidak memikirkan jika kemungkinan terburuk terjadi. Sekuat pikiran saya untuk tetap fokus membereskan laboratorium yang cukup berantakan saat itu. Tiba-tiba hape saya berdering. Teman seperjuangan memberitahukan hasil pengumuman bahwa saya lolos dan berhak mengikuti seleksi interview esok harinya. Alhamdulillah…rintihku dalam ucap. Rasa syukur yang cukup dalam membuat saya sedikit percaya diri untuk mengikuti tes tahap terakhir. Saya mendapat jadwal interview di hari kedua, 1 hari penuh saya belajar interview dan menyiapkan diri semaksimal mungkin. Sepanjang hari bibir tak henti untuk berseru atas nama Allah. Esok haripun tiba, saya menunggu giliran di depan ruang interview. Tiba-tiba suara seorang bule memanggil nama saya “Ibu Novitasari?” yes sir..jawabku. saya masuk ruangan interview dengan rasa percaya diri dan dalam hati kecil masih menyebut asma-Nya. Karena saya tahu bahwa kemampuan saya sangat terbatas, hanya Allah yang bisa saya andalkan saat itu. 15 menit interview berlangsung, rasanya saya puas dan lega karena telah melewati masa-masa tegang. Saat itu, saya tahu bahwa jawaban saya tak sehebat teman-teman yang lain. Lidah inggris saya tidak selihai lidah teman-teman lainnya. Saya pasrahkan semuanya pada Allah swt. Saya sudah mengambil langkah dan keputusan bahwa saya akan resign dari pekerjaan dan akan merantau untuk belajar bahasa inggris di Pare sebulan lagi. Surat pengunduran diri telah diserahkan pada pihak kampus. Tinggal sebulan saya berada di dunia laboratorium yang merupakan tempat tinggal kedua saya setelah rumah (hehheheh lembuuur gaess..kadang nginep di kampus kalo ada mahasiswa penelitian)… perasaan saya saat itu tidak karuan. Senang karena sudah tidak kerja lembur lagi, sedih berpisah dengan orang-orang baik dan oaring hebat. Tapi keputusan telah saya ambil. Dan resiko harus saya tanggung.

Selama sebulan saya risau menunggu hasil pengumuman kelulusan tahap akhir. Selama itu saya terus-terusan berdo’a untuk kelulusan. Hari pengumuman pun tiba, tenggat waktu untuk penerimaan email kelulusan yaitu 3 hari. Di hari pertama saya cek email tidak ada email masuk dari ELTA. Hari kedua pun begitu..saya pasrah, benar-benar pasrah dan harus menerima kenyataan bahwa saya akan ke Pare dan belajar bahasa Inggris dengan biaya orang tua. Di hari ketiga pengumuman saya memang tak ingin mendapat kabar apapun, sengaja saya tidak membuka email. Saya pikir, cukup untuk sakit. Saya mungkin akan lega membuka email di hari berikutnya saja, karena untuk keperluan lain bukan mengharapkan email dari ELTA.

Pagi hari sebelum saya berangkat bekerja, biasanya saya men-cek diskusi di beberapa grup WA saya. Tidak sengaja saya membaca percakapan di salah satu grup Volunteer saya bahwa beberapa orang dari mereka baru mendapat email dari ELTA pagi itu. Dan….dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya saya putuskan untuk membuka email. 1 kotak masuk dan bola mata saya bergeser pada tulisan ELTA pada judul kotak masuk. Saya sudah menyimpan kemungkinan bahwa balasan email tersebut adalah pemberitahuan KETIDAKLULUSAN.

Saya membuka pelan pelan file pdf itu, dengan membaca Bismillah, menyebut nama Allah sebanyak-banyak. Daaannnnn……finalllyyyy berulag ulang say abaca undangan itu…saya baca kembali hampir tak percaya, saya harus meyakinkan diri saya sebanyak 3 kali saya baca dengan seksama. Saya Teriaak sekencang-kencang nya….Australiaaaaaaaaa pagi itu pecah. Adek saya terkaget dan memaki saya dengan makian khas orang Bima. Tapi saya tidak peduli. Benar-benar tak peduli. Saya lari keluar rumah, masuk lagi. Keluar lagi…loncat-loncat girang seperti orang gila. Benar-benar seperti orang gila. Saya tak percaya bahwa saya menjadi salah satu peserta program ELTA. Yang semakin membuat saya bahagia sekaligus bingung adalah undangan tersebut benar ditujukan kepada saya namun pelaksanaan program dilaksanakan di Bali tepatnya di kampus IALF Bali. Padahal sebelumnya jelas-jelas saya mendaftar pada program ELTA NTB. Entahlah…apapun alasannya dimanapun kegiatannya yang penting saya telah menjadi salah satu trainee ELTA 2016 yang saat itu menjadi peserta ELTA Bali untuk angkatan pertama. 

Rasa syukur yang tiada henti-hentinya, air mata dengan sendirinya menetes. Saya genggam tangan Ibu Bapak saya erat-erat, dengan rasa haru saya ucapkan rasa Terima Kasih atas semua dukungannya. Saya kembali menangis dipojokan kamar. Saya cukup malu utnuk menangis haru di depan mereka…sungguh mendapatkan beasiswa ini adalah salah satu jalan untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Alhamdulillah ya Allah….

Wahh….jadi kembali nangis dehh saya sekarang, mengingat getir nya perjuangan yang begitu indah yang pernah saya rasakan dalam hidup…dan tak akan pernah saya lupakan. Saya share cerita ini tidak lain untuk memotivasi teman-teman pembaca yang juga mungkin sedang dalam proses menggapai mimpi seperti saya…atau yang sudah mewujudkan mimpi pasti tau bagaimana rasanya terwujudnya mimpi-mimpi itu. LUAR BIASA!

Finally saya meninggalkan pekerjaan saya secara terhormat dan pamit pada atasan dan kerabat kerja lainnya. Saya berangkat ke Denpasar dan memulai kisah baru yang bukan di kampung Inggris tapi di kampungnya para bule hehheheh…

Baiklah readers….sampe sini dulu cerita kali ini, di tulisan berikutnya saya akan share tentang program ELTA Bali (kelas inklusif) itu sendiri seperti apa…tetap ikutin yaa karya-karya saya selanjutnya….teman-teman juga bisa request kok, mau di certain apaaa??? Hehehhehe

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suka Duka Menjadi Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan

Sepotong Kecil Cerita tentang Menjadi Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Ilmu dan Teknologi Pangan merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari cara pengolahan, pengawetan dan penyimpanan bahan pangan. Pada dasarnya cabang ilmu ini berkaitan erat dengan ilmu pertanian. Berangkat dari background Pertanian, ilmu terapan semakin berkembang sehingga melahirkan salah satu cabang yang mengembangkan produk hasil pertanian (pangan). Oke kali ini saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai seluk beluk terlahirnya jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan ini di dunia. Namun saya akan bercerita tentang kisah bahagia dan kisah sedih yang dirasakan oleh mahasiswa yang kuliah di jurusan ini. Ahh bukan maksud hati mengumbar bahagia maupun derita, tapi hanya berbagi pengalaman yang saya rasakan saat menjadi mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan di Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri. Jurusan dan fakultas ini hanya ada di satu-satunya universitas kebanggaan masyarakat Nusa...